Lompat ke isi utama

Berita

Menjaga Integritas Demokrasi dari Beranda Depan: Panwaslih Simeulue Peringati Hari Lahir Pancasila

Panwaslih Simeulue

Pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin 1 Juni 2026.

Sinabang — Di bawah langit pagi pulau terluar Aceh, jajaran Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Kabupaten Simeulue berkumpul dengan khidmat di halaman kantor sekretariat, Senin (1/6/2026). Kehadiran seluruh personel ini adalah untuk melaksanakan upacara bendera memperingati Hari Lahir Pancasila, sebuah momentum yang tahun ini dirayakan di tengah masa transisi politik nasional pasca-pemilu.

Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 secara nasional mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia". Pesan kuat yang dirilis oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini mengingatkan kembali akan peran krusial ideologi negara sebagai jangkar penahan polarisasi, baik di level domestik maupun dalam merespons ketegangan geopolitik global.

Upacara di tingkat kabupaten ini dipimpin langsung oleh Ketua Panwaslih Simeulue, Mitro Heriansa, dan diikuti oleh seluruh staf sekretariat. Meski berada jauh dari pusat pemerintahan, gaung pesan persatuan dari tema tahun ini dirasakan sangat relevan bagi wilayah kepulauan seperti Simeulue, terutama dalam mengawal sisa-sisa tahapan demokrasi lokal agar tetap kondusif.

Dalam amanatnya, Mitro Heriansa menegaskan bahwa nilai-nilai keadilan sosial dan persatuan yang termaktub dalam Pancasila harus menjadi ruh utama bagi setiap pengawas pemilu. Menurutnya, netralitas dan integritas penyelenggara adalah representasi nyata dari pengamalan sila keempat dan kelima Pancasila.

"Mengawal hak pilih masyarakat di pulau terluar ini bukan sekadar tugas teknis administratif, melainkan sebuah manifestasi dari menjaga keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila adalah fondasi kita untuk memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses demokrasi," ujarnya di hadapan peserta upacara.

Tema tahun ini juga dimaknai sebagai refleksi untuk terus merawat kearifan lokal (local wisdom) yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Di Simeulue sendiri, tradisi musyawarah dan ikatan kekerabatan yang erat selama ini terbukti menjadi perisai efektif dalam menangkal isu hoaks serta politisasi SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) yang kerap mengancam persatuan saat kontestasi politik berlangsung.

Pelaksanaan upacara yang berjalan dengan tertib dan penuh khidmat ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Momentum ini sekaligus meneguhkan komitmen jajaran Panwaslih Simeulue untuk tetap berdiri tegak lurus pada konstitusi demi menjaga kawalan demokrasi di beranda depan Indonesia.

Panwaslih Simeulue

Penulis: Heski Mandala